Kamis, 24 Juni 2010

KONSEP DAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI MENURUT EMILLE DURKHEIM

Oleh : Akhmad Attaf Tahzani

“if society experiences grief, therefore needs to find someone who can look on to be in control of its grief. Person who can be made as target of revenge on its accident that, and averse person public opinion which discriminatory. Usually will be pointed as fall guy that will be victimized. One that is cogent in interpretation is society trick welcome to usufruct Dreyfus’s justices 1894. Mirth slops at highway. People celebrates victory over what already be looked on as cause of common grief. At least they know who one shall be blamed for economy handicap and happening moral damage deep their society; that adversity is indigenous jewish. Via this fact also all something was seen as good crescent and people perceives to be comforted.” (Lukes, 1972:345)
Secara sederhana paradigm kita artikan sebagai kacamata atau sudut pandang dalam melihat objek yang diamati. Istilah “paradigma” (paradigm) pertamakali diperkenalkan oleh Thomas Khun dalam karyanya yang berjudul The Structure Of Scientific Revolution (University Of Chicago Press 1970). Menurutnya paradigm adalah sebuah kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan sebuah teori. Khun menjelaskan tentang perubahan paradigm dalam ilmu, dan menurutnya disiplin ilmu lahir sebagai proses revolusi paradigm.
Dalam bidang sosiologi pandangan ini dikembangkan secara sistematis dan integrated oleh George Ritzer dalam bukunya sociology : A Multiple Paradigm Science ( Baston, Allyn and Bacon 1980 ). Kemudian siterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Sosiologi Ilmu Pengetahuan berparadigma ganda. Dalam buku ini Ritzer membagi tiga paradigm besar dalam disiplin sosiologi dan menjelaskan, bahwa kemenangan satu paradigm atas paradigm lain lebih disebabkan karena para pendukung dari paradigma yang menang itu lebih mengandalkan kekuatan dan penguasaan dari atas pengikut paradigm yang dikalahkan, bukan karena persoalan benar atau salah dalam makna struktur dan makna teori itu, sehingga ketiga paradigm tersebut memiliki kekurangan dan kelemahan masing-masing.1 kenapa pemakalah terlebih dahulu menyampaikan tentang paradigm? Sebab paradigm merupakan cikal bakal berkembangnya keinginan dari sisi mana untuk meneliti fakta yang terjadi. Fakta ini dapat berbentuk apa saja, diantaranya adalah fakta social yang merupakan pembahasan pemakalah dengan tokohnya Emille Durkheim.
Paradigm yang pertama adalah fakta social. Paradigma yang dikembangkan oleh Emille Durkheim Sosiolog Asal Perancis Berdarah Yahudi. Lewat dua karyanya the Rules Of Sociology Method tahun 1895 dan Durkheim menyatakan bahwa fakta social dianggap sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. yang berangkat dari realitas (segala sesuatu) yang menjadi objek penelitian dan penyidikan dalam studi sosiologi. Titik berangkat dari sifat analisisnya tidak menggunakan pemikiran spekulatif seperti yang dilakukan oleh filsafat. Maka untuk memahami realitas dibutuhkan dan penyusunan data rill diluar pemikiran manusia. Penelitian yang dihasilkan bersifat deskriptif dan hanya berupa pemaparan atas data dan realitas yang terjadi. fakta social terbagi kepada dua yaitu stuktur social dan pranata social. Paradigm kedua adalah sefinisi social yang dikembangkan olleh Marx Weber yang menganalisa tentang tindakan tersebut bermakna penuh arti dan ditafsirkan untuk sampai pada penjelasan kausal. Paradigm terakhir adalah perilaku social yang dikembangkan oleh B.F Skinner dengan mengadakan pendekatan behaviorism dari psikologi.
Teori merupakan bagian dari realitas praktis dari kehidupan sehari-hari yang menggambarkan landasan implisit semua bentuk pengetahuan dan interpretasi seseorang tentang fenomena fisik dan social. Teori adalah seperangkat hubungan yang digunakan untuk menjelaskan dan menginterprestasikan cara fenomena khusus itu beroperasi. Artinya pembuatan teori atau formulasi dan modifikasi penjelasan-penjelasan interpretative, merupakan sebuah proses yang berkembang dan mengubah hal dasar menjadi formal, pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan dan memadukannya dengan interaksi social sehari-hari.
Banyak factor yang dapat digunakan untuk mencoba menjelaskan suatu teori. Factor-faktir iru adalah : struktur alam fisik, magis, mistisisme, sifat biologis seseorang, system social dan contoh efek dari interaksi. Adapun tipe teori atau atrukturnya (tingkat kerumitan), ide sentralnya adalah cara mendefinisikan realitas untuk mendukungnya dan mempengaruhi pandangan dan perilaku mereka. Maka teori bersifat dinamis sebagaimana halnya teori mendefenisikan realitas fisik atau sosiaol secara konstan bagi pendukung-pendukungnya.
1. PEMBAHASAN
A. SKETSA BIOGRAFIS EMILLE DURKHEIM
Emille Durkheim lahir di Epinal Perancis. April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi dan secara pribadi dia belajar untuk menjadi seorang pendeta (Rabbi). Saat berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta dan perhatiannya kepada agama hanya sebatas akademis saja. Bukan karena kecewa dengan pendidikan agama, tapi ia juga kecewa terhadap pendidikan lain secara umum, kemudian ia berlatih kepada kesusastraan dan estetika, metodologi ilmiah, dan prinsip ilmiah yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosisl.2 ia menolak berkarir filsafat yang dianggapnya tradisional dan berupaya mendapatkan ilmu yang ilmiah agar dapat disumbangkan sebagai pedoman moral masyarakat. Walaupun ia tertarik pada keilmiahan namun pada saat itu belum ada lembaga tentang studi sosiologi dan untuk mengisi harinya ia mengajar di kelas filsafat tahun 1882 di Paris.
Dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan dengan psikologi ilmiah kemudian ia mengunjunginya ke Jerman, setelah pertemuan itu, Emille Durkheim kemudian menerbitkan sejumlah buku tentang pengalamannya di Jerman. Akibat dari menulis buku tersebut ia mendapat kesempatan untuk mendapatkan jabatan di Jurusan Filsafat di Universitas Bordeaux tahun 1887. Dan disinilah Durkheim pertama sekali memberikan kuliah social ilmu-ilmu social. Meskipun dikatakan bukan tujuannya yang semula. Secara garis Emille Durkheim melalui pendekatan ilmiah dengan teori kemasyarakatannya, telah meletakkan dasar ilmu filsafat.3 atas dasar inilah semua usaha ia lakukan dan menyusun kembali karena dianggap sangat penting bagi dunia ilmu pengetahuan.
Durkheim telah menyusun konsep kemasyarakatan, melalui pendekatan hidup social masyarakat secara ilmiah, kemudian juga membahas secara tepat melalui kedalaman ilmunya yang merupakan contoh empiric dalam kehidupan masyarakat. Beberapa karya buku Emille Durkheim yang ditulis setelah kembalinya ia dari Perancis. Karya-karya tersebut antara lain adalah :
1. Buku The Devision Of Labor Society dalam bahasa Perancis tahun 1893, Durkheim juga menulis tesisnya tentang Montesquieu.
2. Buku metodologi utama. The Rules Of Sociological Method, terbit tahun 1897, membahas tentang hasil penelitian empiris dalam studi tentang bunuh diri.
3. Buku yang berjudul The Elementary Forms Of Religious Life, diterbitkan tahun 1912. Dan kemudian tahun 1906 ia mendapat kehormatan menjadi professor ilmu pendidikan dan kemudian di ubah menjadi professor ilmu pendidikan dan sosiologi tahun 1913.
Minat durkeim terhadap sosialisme dijadikan bukti bahwa ia menentang pemikiran yang menganggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran tokoh sosiologi lainnya. Durkheim yang dididik dalam tradisi pencerahan (Englightenment Tradition) dan dia memberikan reaksi terhadap revolusi politik dan social yang terjadi pada masanya kemudian menghubungkannya dengan pemikiran “The General Will” atau kehendak bersama dan solidaritas social.4 dan dia mengonseptualisasikan masyarakat dalam hal norma-norma atau jenis-jenis integrasi social yaitu, cara individu secara sosiologis semacam berhubungan dengan struktur social, melalui fakta-fakta social / social facts. Salah satu kajian utamanya adalah semacam sifat-sifat solidaritas.
B. KONSEP EMILLE DURKHEIM TENTANG PENDIDIKAN
Durkeim juga sangat tertarik akan pendidikan. hal ini sebagian karena ia secara professional dipekerjakan untuk melatih guru dan mengajar mahasiswa dan ia menggunakan kemampuannya untuk menciptakan kurikulum untuk mengembangkan tujuan-tujuannya untuk membuat sosiologi diajarkan seluas mungkin. Pada awalnya Durkheim adalah seorang professor pendidikan dan kemudian di tambah dengan professor pendidikan dan sosiologi. Lebih luas lagi, Durkheim juga tertarik pada bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk memberikan kepada warga Perancis semacam latar belakang secular bersama diburuhkan untuk mencegah anomi (keadaan tanpa hukum) dalam masyarakat modern. Dengan tujuan inilah ia mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok professional yang berfungsi sebagai sumber solidaritas bagi orang-orang dewasa. Durkheim berpendapat bahwa pendidikan mempunyai banyak fungsi :
1) Memperkuat solidaritas social Sejarah: belajar tentang orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi banyak orang membuat seorang individu merasa tidak berarti. Menyatakan kesetiaan: membuat individu merasa bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecenderungan untuk melanggar peraturan.
2) Mempertahankan peranan social sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniature. Sekolah mempunyai hierarki, aturan, tuntunan yang sama dengan “dunia luar”. Sekolah mendidik orang muda untuk memenuhi berbagai peranan.
3) Mempertahankan pembagian kerja. Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka.

C. KONSEP EMILLE DURKHEIM TENTANG KEMASYARAKATAN
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya si masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan social di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu oendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena social bersama Herbert Spencer. Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekedar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sesamanya, Max Weber ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualis metodologis) melainkan lebih kepada penelitian terhadap “fakta-fakta social” istilah yang dicipyakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang terikat kepada tindakan individu. Ia brpendapat bahwa fakta social mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih obyektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta social lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dalam bukunya “ Pembagian Kerja Dalam Masyarakat 1893 Durkheim meneliti bagaimana tatanan social dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memutuskan perhatian pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Tonnies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organism hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit.5 durkheim membalikkan rumusan ini sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan social,evoluaionisme social, dan darwinisme social. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya banyak kesamaan si antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual- norma-norna social kuat dan perilaku social. Diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas ‘organik’. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan social menciptakan ketergantungan yang meningkat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang’mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan beserta pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang ‘organik’, para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanana, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan merekaaa. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif-seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu system hokum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidariiitas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hokum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, peruuubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan social, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma social yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri. Durkheim belakangan mengembangkan konsep tenteng anomie dalam “Bunuh Diri”, yang siterbitkan pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri diantara orang-orang protestan dan katolik, dan menjelaskan bahwa control social yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterkaitan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi social Tingkat integrasi social yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrrasi social menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan oerng bunuh diri agar mereka tidak menjadi beben bagi masyarakat.
Beberapa asumsi Emile Durkheim kemasyarakatan secara ringkas adalah:
1. Asumsi utama Durkheim adalah masyarakat sebagai kesadaran kolektif mempunyai keberadaan independen. Samam dengan spencer bahwa ia memandang masyarakat lebih dari sekedar kumpulan bagian-bagiannya, tapi merupakan sesuatu kesatuan; kesatuan yang utuh secara terkondisikan melaksanakan dan mempengaruhi struktur normatifnya.
2. Kekuatan social didasarkan pada pandangan kolektif yaitu, berbagai bentuk kekuasaan yang bersandar pada strujtur normative dari kelompok tertentu selama control itu diterapkan pada anggota kelompok melalui norma-norma ini. Dalam kenyataan secara umum semua aspek struktur social temasuk lembaga-lembaga bersandar pada sebuah system normative masyarakat.
3. Durkheim berpandangan bahwa evolusi fakta atau norma social didasarkan pada kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini, gejala social menggambarkan kebutuhan-kebutuhan social yang mendorong para ahli sosiologi untuk mengkaji dan pandangan tersebut menjelaskan pendekatan faham fungsionalis struktur yang lebih kontemporer.6
4. Pembagian kerja dalam masyarakat yaitu, semakin sama pembagian kerja dalam masyarakat, semakin tinggi tingkat integrasi social. serta semakin tinggi tingkat populasi, semakin besar tingkat kepadatan penduduknya, yang mengakibatkan peningkatan dalam hal pembagian kerja dan penurunan dalam hal solidaritas social.
5. Bahwa kejahatan dan bentuk penyimpangan yang lain mempunyai fungsi untuk masyarakat dalam hal penyimpangan sehingga mendorong perubahan dan perkembangan norma-norma dalam masyarakat.

D. KONSEP EMILLE DURKHEIM TENTANG AGAMA
Agama bagi Emille Durkheim bukanlah untuk membuat kesulitan bagi diri sendiri. Ia menyatakan bahwa setiap gagasan yang bermanfaat bagi kehidupan social jelas konsep yang dipegang bukan dari partisipan, tetapi oleh akibat pendiriannya yang sadar untuk mencari sesuatu yang lebih tinggi. Yaitu Tuhan.7 ia memandang karena segala sesuatu iru ada yang mengatur dengan kekuasaan yang luar biasa pada sekelompok individu, akan memperjelas adanya gambaran aturan sebagai perintah bersama. Bagi Durkheim agama adalah suatu kumpulan benda yang penting dan ia benar-benar membedakan pengertian agama dari magic(ilmu sihir), sebab magic selalu bekerja mempengruhi awal suatu individu. Menurut Durkheim hal-hal yang melatarbelakangi studi tentang keagamaan adalah:
1. Ia memandang perlunya pembatasan agama. Dan tidak membatasi pengertian tentang agama secara khusus dalam bentuk alami atau keluarbiasaan. Secara konsekuaen pengertian agama dan masyarakat tidak dapat sibatasi secara menyeluruh dalam hubungan ini, karena agama hanya dibatasi oleh konteks kesucian. Semua kepercayaan agama baik yang sederhana atau kompleks member ciri biasa mereka klasifikasikan menyangkut semua hal yang nyata dan ghaib, profane dan sacre (duniawi dan suci)
2. Kepercayaan menurut Durkheim menyangkut seluruh kehidupan ajaran agama yang kompleks, melibatkan sikap ajaran agama yang bermaksud untuk menjaga tabiat serta menyatukan idea atau pendapat manusia itu sendiri sebagai bagian dari rohani seluruhnya.
3. Agama yang dianut dengan menggunakan lambang kemudian menjadi identitas dengan alasan-alasan yaitu; suatu bentuk totemi dan bentuk dasar dari kehidupan beragama ada dalam kenyataan yang komplek. Kelengkapan agama meraka bukan dengan cara menjaga keseserhanaan dari bentuk kehidupan zaman batu mereka. Masing-masing penganut kepercayaan berkumpul menurut ajaran agamanya melanjutkan objek kehidupan memiliki ajaran agama yang lebih tinggi. Kemudian masing-masing pemeluk kepercayaan menggabungkan diri menurut jenis kepercayaannya, seperti jenis kodrat nya barang-barang ajaib seperti hujan, hutan dan angin.
Semua keyakinan agama yang dikenal menurut Durkheim apakah sederhana atau kompleks, menyajikan satu karakteristik yang berlaku umum dalam kehidupan beragama. Mereka mensyaratkan suatu azas klasifikasi dari segala sesuatu yang rill dan ideal, berdasarkan pemikiran masyarakat beragama, menjadi dua aspek yang berlawanan yaitu profane ( aktifitas agama yang bersifat duniawi ), kemudian sacrade ( aktifitas beragama yang bersifat sacral ) . dan secara sosiologis kehidupan beragama akan selalu dihadapkan pada dua domain yaitu, pertamam berisi seluruh aktifitas sacral bersifat ukhrawi dalam wujud norma dan nilai-nilai persembahan, peribadatan, kebaktian kaitannya dalam rangka hubungan manusia dengan zat Tuhan. Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam “Bunuh Diri”, yang diterbitkan pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan Dan Katolik, menjelaskan bahwa control social yang lebih tinggi di antara orang katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi social.
Tingkat integrasi social yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi social menghasilkan nasyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingkat yang rendah.karya ini telah mempengaruhi para penganjur teori control, dan seringkali di sebut sebagai studi sosiologis klasik. Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat ‘primitif’ (artinya, non barat) dalam buku-bukunya seperti “Bentuk-Bentuk Elementer Dari Kehidupan Agama” (1912) dan esainya “klasifikasi primitif” yang situlisnya bersama Marchel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan masyarakat – masyarakat yang sangat ‘mekanis’ (meminjam ungkapan Durkheim)
E.KONSEP DURKHEIM TENTANG MANUSIA DAN SOSIAL
fakta sosial menurut durkheim adalah cara – cara bertindak, berfikir dan merasa yang berada di luar individu dan dmuati dengan sebuah kekuatan memaksa berakibat hal-hal yang mengontrol individu.8 kendatipun ada ciri idealistis atau moral yang diakui dari fenomena sosial durkheim berusaha menemukan cara menjelaskan fakta social yang teramati Idan terukur. Dengan demikian ia menyamakan kepadatan social dengan konsentrasi populasi, memakai statistic untuk membuat pertanyaan factual umum mengenai masyarakat sebagai keseluruhan dan menganggap proses-proses teramati dari berbagai jenis sanksi hokum sebagai cirri-ciri permukaan dari kenyataan social yang mendasarinya.
Secara khusus ilmu social dapat diterapkan pada masalah penetapan kembali tatanan social diambang pergolakan-pergolakan dan efek industialisasi yang merugikan masyarakat. Disini Durkheim berharap untuk memperlihatkan bagaimana sebuah consensus social baru dapat menciptakan kembali nilai-nilai komunitas dan tatanan social tanpa mengorbankan emansipasi manusia yang berasal dari keambrukan feudal.
Durkheim berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang jelas bersifat manusiawi seperti bahasa, moralitas, agama dan kegiatan ekonomis dapat diberi ciri, dan tergantung pada masyarakat tidak lebih banyak menghalanginya untuk memiliki sebuah teori tentang manusia daripada dalil-dalil individualitas. Kita melihat bahwa Durkheim menilai sangat sedikit individu sebagai bahan mentah yang dapat dibentuk oleh pengaruh kehidupan kelompok dapat melampaui masyarakat. Durkheim sangat prihatin dengan polaritas individu yaitu, tema yang terus menerus muncul akan tatanan social dan pemenuhan diri manusia. Secara mendetail Durkheim memandang kodrat manusia sebagai suatu abstraksi yang hampir total dari tingkah laku manusia – manusia actual dalam situasi yang real. Beberappa pandangan Durkheim tentang manusia :
1. Dalam kehidupan manusia modern bukanlah masukan dari kodrat manusia melainkan berasal dari keefektifan residualdan kekuatan – kekuatan social yang tetap bekerja.
2. Rekonstruksi masyarakat untuk menetapkan kembali individu manusia dan demikian dapat memecahkan masalah anomie pada manusia.
3. Seorang pribadi yang terintegrasi dalam masyarakat yang otonomi relatifnya dan individualitasnya tidak dapat dipisahkan dari satu kehadiran masyarakat didalam seluruh fikiran, perasaan dan perbuatannya.
4. Dengan adanya bahan mentah kodrat manusia yang secara inderawi yang kacau balau itu, tetapi masyarakat saja dapat memberikan disiplin yang member bentuk dan makna untuk hidup manusia.
Lebih jauh isi teori sosialnya ia menekankan untuk meningkatkan kesadaran kita tentang masyarakat sebagai sebuah fenomena normative yang tidak bisa dimengerti tanpa sebuah penghargaan terhadap peran social. Durkheim menolak baik ciri ketidak setujuan yang terus muncul diantara para individu dan kelompok social dan cara ketidaksetujuan dibereskan oleh penyebaran kekuasaan superior. Makanannya yaitu dengan kemampuan untuk menimbulkan kerugian fisik, ekonomis atau kerugain lainnya pada para saingan.
Barangkali benar bahwa tidak ada masyarakat yang dapat dipersatukan bersama meskipun dengan dasar sifat memaksa, tetapi secara actual jelas bahwa norma-norma actual bukannya tidak berhubungan dengan kemampuan meraka yang berasa dalam kekuasaan untuk mewujudkan maksud mereka. Bahwa individu tidak dapat melampaui asal usul social pengalaman moral dan memakai nilai-nilai yang mencerminkan pilihan-pilihan yang tidak di tentukan masyarakat. Sekalipun nilai-nilai di tentukan masyarakat, kenyataan itu tidak membuktikan bahwa kohesi social harus menjadi nilai tertinggi. Tank mungkin ada nilai-nilai tanpa masyarakt.9 tetapi dengan adanya sebuah bentuk organisasi social yang mungkin ada scope yang luas untuk memilih diantara berbagai macam rancangan social yang pada dirinya tidak ditentukan oleh kebutuhan untuk memelihara tatanan social.
Perang Dunia 1 mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotic dan bukan internasionalis – ai mengusahakan bentuk kehidupan Perancis yang secular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negaranya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kgenerepada semangat nasionalis yang sederhana ( di tambah dengan latar belakang yahudinya ) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Perancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Perancis bertahan mati-matian. Akhirnya Rene, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang-sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.
Hampir mayoritas sosiolog akan berpendapat bahwa ilmu sosiologi menggunakan prinsip “value free” (bebas nilai) demi menjaga obyektifitas keilmiahan sebuah ilmu atau teori. Unsure nilai yang memasukkan asumsi subyektivitas ke dalam kajian sosiologi akan menyebabkan ketidakobyektifan sebuah gagasan. Criteria yang menentukan apakah sebuah kajian itu ilmiah atau tidak ditentukan oleh bagaimana kemampuan seorang peneliti dalam memaparkan informasi secara obyektif. Tuntunan dalam prinsip bebas nilai adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.10 artinya, tidak ada campur tangan eksternal di luar strukur obyektif sebuah pengetahuan. Obyektivitas hanya bisa diraih dengan mengandaikan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (value-neutral).
Prinsip bebas nilai dalam ilmu pengetahuan ini menafikan adanya “historisisme” yang sangat menentukan bagaimana konstruksi atas pengetahuan itu. Jika dilihat menurut kacamata sosiologi pengetahuan maka sesungguhnya ilmu itu tidak bebas nilai, tetapi sangat terkait dengan konteks historis kemunculannya. Max Scheler dan Karl Mannheim, dari aliran sosiologi pengetahuan, menentang ide mengenai ilmu-ilmu social yang historis dan itu, baik disadari atau tidak, sedang merefleksikan kebudayaan mereka sendiri dengan prespektif social yang mereka adopsi. Seorang ilmuan memang harus mengatasi prasangka-prasangka mereka dengan memperbaiki kadar kualitas pembacaan mereka atas realitas, dengan berpangkal pada obyektivitas, tapi pada saat yang sama mereka harus mengklarifikasi asumsi-asumsi yang mendasar, memahami lokasi-lokasi social mereka sendiri dalam masyarakat, dan juga secara kritis mempertanyaan cita-cita social yang ada di masyarakat. Idealnya pengetahuan adalah obyektif. Abad Pencerahan “membasmi” semua pra-pendapat subyektif untuk membentuk suatu pendekatan yang “netral” dan “obyektif”. Hal dimaksudkan agar terbebas dari bias-bias emosional, afektif, dan pribadi, dengan menggunakan akal dan metodologi yang logis sebagai jalan menuju pencerahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar